|
No. 45 Di malam yang sunyi...kulihat bulan di wajahmu...
Benarkah pemakaian kata �gdi malam sunyi�g dan �gdi wajahmu�h pada kalimat di atas sesuai dengan kaidah? Marilah kita perhatikan penjelasan di bawah ini!
Dalam bahasa Indonesia, �gdi�h mempunyai dua fungsi. Pertama, sebagai prefiks (awalan) dan kedua sebagai preposisi (kata depan). Dalam kenyataannya kedua fungsi yang berbeda ini sering dikacaukan dalam pemakaiannya.
Sebagai prefiks, �gdi�h selalu diikuti oleh verba (kata kerja) dan ditulis serangkai dengan verba tersebut. Contoh : dimakan, ditulis, ditanya, dibeli, diambil.
Sebagai preposisi, �gdi�h ditulis terpisah dari keterangan tempat yang mengikutinya. Contoh : di rumah, di pasar, di jalan, di restoran, di Manado.
Untuk keterangan tempat yang lebih spesifik, preposisi �gdi�h mendapat tambahan kata yang sesuai dengan kekhususan tersebut, seperti atas, bawah, luar, dalam, muka. Dalam konteks ini, preposisi �gdi�h tetap ditulis terpisah dari kata tambahan tersebut. Contoh:
di atas meja, di bawah ranjang, di luar rumah, di dalam kamar, di muka toko.
Preposisi �gdi�h juga ditulis terpisah jika diikuti kata-kata seperti antara (di antara), samping (di samping), mana (di mana), sana (di sana).
Preposisi �gdi�h tidak boleh digunakan untuk menunjukkan waktu. Sebagai gantinya, digunakan preposisi �gpada�h. Perhatikan contoh berikut : di zaman Meiji, di era pembangunan, di masa revolusi, di bulan yang lalu,dan di malam yang sunyi (tidak sesuai dengan kaidah). Seharusnya : pada zaman Meiji, pada era pembangunan, pada masa revolusi, pada bulan yang lalu, dan pada malam yang sunyi (sesuai dengan kaidah).
Jika ada keterangan waktu yang menggunakan preposisi �gdi�h, biasanya hanya terdapat dalam sajak atau syair. Penyair memiliki kebebasan yang dikenal dengan sebutan licentia poetica. Kadang-kadang seorang penyair harus menyusun kata-kata untuk mendapatkan keseimbangan bunyi yang dapat melahirkan rasa keindahan. Misalnya, di senja yang kelam...di masa yang silam....di saat keheningan malam....
Preposisi �gdi�h tidak digunakan jika diikuti oleh kata ganti orang, seperti saya, dia, kamu, mereka, ayah, ibu, dan kakak. Contoh : Bukumu ada di saya. Titipkan suratku di Maya. (tidak sesuai dengan kaidah). Seharusnya : Bukumu ada pada saya. Titipkan suratku pada Maya. (sesuai dengan kaidah)
Preposisi �gdi�h tidak digunakan jika yang mengikutinya adalah kata benda abstrak. Contoh : di pertandingan itu, di pikirannya, di pertemuan itu, di kesempatan ini (tidak sesuai dengan kaidah). Seharusnya digunakan preposisi �gpada�h, kadang-kadang digunakan juga preposisi �gdalam�h sebagai penggantinya. Contoh: pada (dalam) pertandingan itu, pada(dalam)pikirannya, pada(dalam pertemuan itu, pada (dalam) kesempatan ini. (sesuai dengan kaidah).
Preposisi �gdi�h tidak digunakan jika keterangan tempat didahului oleh angka, misalnya : di sebuah rumah, di dua kamar, di lima kota,dan di banyak kantor. (tidak sesuai dengan kaidah). Seharusnya : pada sebuah rumah, pada dua kamar, pada lima kota, pada banyak kantor. (sesuai dengan kaidah).
Preposisi �gdi�h tidak digunakan jika diikuti oleh keterangan tempat yang tidak sebenarnya, misalnya : di wajahmu kulihat bulan, di dagunya ada tahi lalat, di sisi kiri rumah ada garasi. ( tidak sesuai dengan kaidah). Seharusnya : pada wajahmu kulihat bulan, pada dagunya ada tahi lalat, pada sisi kiri rumah ada garasi. (sesuai dengan kaidah).
Preposisi �gpada�h berubah menjadi �gkepada�h jika tekanannya mengenai arah. Contoh : Gadis itu melapor kepada polisi. Jika tekanannya tidak mengenai arah, gunakan preposisi�gpada�h, misalnya : Hadiah ini saya berikan pada Mbak Farida.
Demikian penjelasan mengenai pemakaian preposisi �gdi�h sesuai dengan kaidah.
Jadi kalimat pada judul di atas seharusnya ditulis : Pada malam yang sunyi, kulihat bulan pada wajahmu.....
|